Moammar Khadafy Diasingkan dari Libya

Selasa, 29 Maret 2011 | 15:56 WIB
Dibaca: 20113
reuters Presiden Moammar Khadafy saat pidato di televisi pemerintah, Selasa (22/2/2011) waktu Tripoli.

ROMA, KOMPAS.com — Italia mengusulkan perjanjian politik untuk mengakhiri krisis Libya, termasuk gencatan senjata segera, pengasingan bagi Moammar Khadafy, dan pembicaraan antara pemberontak dan para pemimpin suku.

Menteri Luar Negeri Franco Frattini mengatakan kepada wartawan, ia telah membicarakan usul itu dengan Jerman, Perancis, dan Swedia, serta mengharapkan untuk membicarakannya dengan Turki, Senin malam, sebelum pertemuan internasional mengenai Libya di London, Selasa (29/3/2011) ini.

"Satu penyelesaian politik untuk menciptakan Libya yang baru dan demokratis adalah tujuan paling penting sekarang ini," katanya.

"Itu harus menjadi penyelesaian bersama. Penyelesaian politik itu harus menyatukan, bukan memecah belah kita (masyarakat internasional)," tambah Frattini.

Frattini mengatakan, negara Afrika dapat memberikan suaka kepada Khadafy dan tak perlu mencemaskan pemimpin Libya itu akan kembali berkuasa dari pengasingan.

"Khadafy harus diberi pengertian agar berani bertindak dan berkata: Saya mengerti, saya mundur, saya harus pergi," tambah Frattini.

"Kami mengharapkan Uni Afrika dapat menemukan usul yang benar."

Italia mengharapkan pertemuan kekuatan-kekuatan internasional di London dapat menyampaikan visi bersama bagi Libya pasca-Gaddafi, termasuk gencatan senjata yang diawasi secara internasional dan pembicaraan inklusif antara dewan pemberontak, para pemimpin suku, dan pemain lain dalam masyarakat Libya, kecuali Khadafy.

Italia, sekutu terdekat Khadafy di Eropa sebelum pertempuran di bekas jajahannya itu meletus bulan lalu, enggan ikut operasi militer awal bulan ini, dan merasa telah dikesampingkan oleh Perancis dan Inggris.

Frattini, yang mendesak NATO agar mengambil alih komando operasi, mengatakan, pemberontak yang didukung serangan udara pimpinan Barat pada akhir pekan lalu telah mulai membuahkan hasil, yaitu melindungi kota-kota dari pembombardiran mengerikan oleh pasukan Khadafy.

Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by







Ada 23 Komentar Untuk Artikel Ini.

  • Efendi
    Selasa, 29 Maret 2011 | 22:50 WIB
    Ini sebenarnya usul yg baik. Khadaffy sudah 42 tahun berkuasa dan mengeruk kekayaan penduduk Libya. Ini seperti di Indo dulu, semuanya uang masuk ke Jakarta (Tripoli untuk Libya). Libya barat yg menghasilkan minyak tidak dapat bagian yg fair yah jelas gak senang. 2/3 penduduk libya hidup dibawah garis kemiskinan. Keluarga pak harto walau korup tapi masih berjiwa besar. Coba kalo dia tidak mau turun dan malah menembaki, menteror, dan membunuh rakyat yg demo? Apa kita bisa terima? System demokrasi tidak menjamin bahwa suatu negara akan makmur. Itu tergantung pelaksananya. Tapi demokrasi itu lebih fair dan lebih stabil.

  • Sri Dusyanto
    Selasa, 29 Maret 2011 | 22:29 WIB
    Kalo sudah duduk (32tahun) lupa berdiri...jadi rakyat marah...

  • Meilia Shofi Khasanah
    Selasa, 29 Maret 2011 | 21:57 WIB
    tentu saja ada bedanya khadafi bekerja sama dengan kelompok ekstrimis amerika latin seperti kuba dan venezuela, sedangkan negara arab lainya adalah kucing penurut yang manis.....

  • Mahfud
    Selasa, 29 Maret 2011 | 20:40 WIB
    Tujuan sekutu hanya satu yaitu Minyak

  • harun barus
    Selasa, 29 Maret 2011 | 20:31 WIB
    Setiap pemberontakan harus ditumpas. Bangsa kita sudah sering merasakan pedihnya pemberontakan. Kadafi mundur gak masalah tapi harus dengan cara damai,bukan interpensi. Nanti kalo ada masalah negarakita dibuat gitu juga.YA ALLAH SELAMATKAN LIBYA.
1 2 3 ... 5 »
Kirim Komentar Anda
Nama
komang
Email
mang_bali@yahoo.com
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar